IBNU MASKAWIH
1. Riwayat Hidup Ibnu Maskawaih
Maskawaih adalah salah seorang tokoh filsafat dalam Islam yang memusatkan perhatiannya pada etika Islam. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Khasim Ahmad bin Ya’qub bin Maskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyhur adalah Maskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama tersebut diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majusi kemudian masuk Islam. Ibnu maskawaih dijuluki dengan gelar Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Gelar ini juga sering disebutkan, yaitu al-Khazim yang berarti bendaharawan.
Pada masa Maskawaih masih dalam kandungan, ayahnya meninggal dunia. Maskawaih dilahirkan di Ray (Teheran sekarang) mengenai tahun kelahirannya, para penulis menyebutkan berbeda-beda, MM Syarif menyebutkan tahun 320 H/932 M. Morgoliouth menyebutkan tahun 330 H. Abdul Aziz Izzat menyebutkan tahun 325 H. Ia dibesarkan oleh ibunya sampai menginjak usia 13 tahun setelah itu, bekerja dan tinggal bersama Abu Fadl Ibn Al-‘Amid sebagai pustakawannya selama tujuh tahun. Disamping itu ia juga bertugas sebagai guru privat bagi putra Al-‘Amid, sedangkan tugas pokoknya adalah sebagai pustakawan. Ia juga pernah mengabdi pada ‘Adud al-Daulah, salah seorang keturunan Bani Buwaih, dan kepada beberapa penguasa yang lain dari keluarga terkenal. Ibnu Maskawih wafat pada 9 shafar 421 H/16 Februari 1030 M.
Ibnu Maskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang beraliran Syi’ah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaihi. Perhatiannya amat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, dan pada masa inilah Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud al Daulah. Juga pada masa ini Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan, dan pujangga. Tapi, disamping itu ada hal yang tidak menyenangkan hati Maskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Maskawaih lalu tertarik untuk menitikberatkan perhatiannya pada bidang etika Islam.
Ibnu Maskawaih tidak hanya dikenal sebagai seorang pemikir (filosof), tetapi ia juga seorang penulis yang produktif. Mengenai sejak kapan ia menulis, tidak terdapat informasi yang dapat dijadikan rujukan yang pasti. Dalam buku The History of the Muslim Philosophy disebutkan beberapa karya tulisnya, yaitu:
a. Al-Fauz Al-Akbar
b. Al-Fauz Al-Asghar
c. Tajarib Al-Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulisnya pada tahun 369 H/979 M)
d. Uns Al-Farid (koleksi anekdot, syair, peribahasa, dan kata-kata hikmah
e. Tartib Al-Sa’adat (isinya akhlak dan politik
f. Al-Mustaufa (isinya syair-syair pilihan)
g. Jawidan Khirad (koleksi ungkapan bijak)
h. Al-Jami’
i. Al-Siyab
j. On the Simple Drugs (tentang kedokteran)
k. On the Compisition of the Bajats (seni memasak)
l. Kitab Al-Ashribah (tentang minuman)
m. Tahzib Al-Akhlak (tentang akhlak)
n. Risalat fi Al-Lazzat wa Al-Alam fi Jauhar Al-Nafs
o. Ajwibat wa As’ilat fi Al-Nafs wa Al-‘Aql
p. Al-Jawab fi Al-Masail Al-Salas
q. Risalat fi Jawab fi Su’al Ali Ibn Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqat al-‘Aql
r. Thaharat Al-Nahs, Karya tulis tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang, di samping juga ada kurang lebih 15 (lima belas) buah artikel dan makalah. Dan masih ada kurang lebih 19 buah karya tulis yang sekarang sudah tidak dapat ditemukan lagi.
2. Pemikiran Filsafat Ibnu Maskawaih
a. Filsafat Jiwa (al nafs)
Menurut Ibnu Maskawaih, Jiwa berasal dari limpahan akal aktif (‘aqlfa’al). jiwa bersifat rohani, suatu substansi yang sederhana yang tidak dapat diraba oleh salah satu panca indera.
Jiwa tidak bersifat material, ini dibuktikan Ibnu Maskawaih dengan adanya kemungkinan jiwa dapat menerima gambaran-gambaran tentang banyak hal yang bertentangan satu dengan yang lain. Misalnya, jiwa dapat menerima gambaran konsep putih dan hitam dalam waktu yang sama, sedangkan materi hanya dapat menerima dalam satu waktu putih atau hitam saja. Jiwa dapat menerima gambaran segala sesuatu, baik yang indrawi maupun yang spiritual. Daya pengenalan dan kemampuan jiwa lebih jauh jangkauannya dibanding daya pengenalan dan kemampuan materi. Bahkan dunia materi semuanya tidak akan sanggup memberi kepuasan kepada jiwa.
Lebih dari itu, di dalam jiwa terdapat daya pengenalan akal yang tidak didahului dengan pengenalan inderawi. Dengan daya pengenalan akal itu, jiwa mampu membedakan antara yang benar dan yang tidak benar berkaitan dengan hal-hal yang diperoleh panca indera. Perbedaan itu dilakukan dengan jalan membanding-bandingkan obyek-obyek inderawi yang satu dengan yang lain dan membeda-bedakannya.
Dengan demikian, jiwa bertindak sebagai pembimbing panca indera dan membetulkan kekeliruan yang dialami panca indera. Kesatuan aqliyah jiwa tercermin secara amat jelas, yaitu bahwa jiwa itu mengetahui dirinya sendiri, dan mengetahui bahwa ia mengetahui dirinya, dengan demikian jiwa merupakan kesatuan yang di dalamnya terkumpul unsur-unsur akal, subyek yang berpikir dan obyek-obyek yang dipikirkan, dan ketiga-tiganya merupakan sesuatu yang satu.
Ibnu Maskawaih menonjolkan kelebihan jiwa manusia atas jiwa binatang dengan adanya kekuatan berfikir yang menjadi sumber pertimbangan tingkah laku, yang selalu mengarah kepada kebaikan. Lebih jauh menurutnya, jiwa manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat-tingkat. Dari tingkat yang paling rendah disebutkan urutannya sebagai berikut:
1) Al nafs al bahimiyah (nafsu kebinatangan) yang buruk.
2) Al nafs al sabu’iah (nafsu binatang buas) yang sedang
3) Al nafs al nathiqah (jiwa yang cerdas) yang baik.
Manusia dikatakan menjadi manusia yang sebenarnya jika ia memiliki jiwa yan cerdas. Dengan jiwa yang cerdas itu, manusia terangkat derajatnya, setingkat malaikat, dan dengan jiwa yang cerdas itu pula manusia dibedakan dari binatang. Manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling besar kadar jiwa cerdasnya, dan dalam hidupnya selalu cenderung mengikuti ajakan jiwa yang cerdas itu. Manusia yang dikuasai hidupnya oleh dua jiwa lainnya (kebinatangan dan binatang buas), maka turunlah derajatnya dari derajat kemanusiaan.
Berkenaan dengan kualitas dari tingkatan-tingkatan jiwa yang tiga macam tersebut, Maskawaih mengatakan bahwa jiwa yang rendah atau buruk mempunyai sifat ‘ujub, sombong, pengolok-olok, penipu dan hina dina. Sedangkan jiwa yang cerdas mempunyai sifat-sifat adil, harga diri, berani, pemurah, benar, dan cinta.
b. Filsafat Akhlaq
Teori Maskawaih tentang etika dituangkan dalam kitabnya yang berjudul Tahzib al Akhlaq wa That-hir al ‘Araq (Pendidikan budi pekerti dan pembersihan watak).
Kata akhlaq adalah bentuk jamak dari kata khuluq. Ibnu Maskawaih memberikan pengertian khuluq sebagai keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya.
Dengan kata lain, khuluq merupakan keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan secara spontan. Keadaan jiwa tersebut bisa merupakan fitrah sejak kecil, dan dapat pula berupa hasil latihan membiasakan diri, hingga menjadi sifat kejiwaan yang dapat melahirkan perbuatan baik.
Dari pengertian itu dapat dimengerti bahwa manusia dapat berusaha mengubah watak kejiwaan pembawa fitrahnya yang tidak baik menjadi baik. Manusia dapat mempunyai khuluq yang bermacam-macam baik secara cepat maupun lambat. Hal ini dapat dibuktikan pada perubahan-perubahan yang dialami anak dalam masa pertumbuhannya dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai dengan lingkungan yang mengelilinginya dan macam pendidikan yang diperolehnya.
Pemikiran Ibnu Maskawaih juga tidak hanya terfokus pada filsafat jiwa dan akhlaq saja, akan tetapi Ibnu Maskawaih juga memperhatikan pendidikan mulai sejak dini atau mulai pada masa anak-anak. Dalam salah satu karyanya, Tahdhib al-Akhlaq cendekiawan Muslim asal Ray Persia ini menyatakan, pendidikan menunjukkan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan orang dewasa, terutama orang tua kepada anak-anaknya.
Orang tua wajib memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, yang berisi pengetahuan, moralitas, adat istiadat, dan perilaku yang baik ini semua bertujuan untuk mempersiapkan mereka agar menjadi manusia yang baik. Jika anak-anak itu menjelma menjadi manusia dewasa yang baik, akan memberikan manfaat bagi masyarakatnya. Mereka pun akan diterima secara baik oleh masyarakatnya. Miskawaih menambahkan, pendidikan memang bertujuan menyempurnakan karakter manusia.
Selain memberikan pendidikan mengenai kebaikan, Miskawaih menekankan pula agar sejak dini orang tua mengarahkan buah hatinya berada dalam lingkungan yang baik. Orang tua harus membiasakan anak-anaknya bergaul dan berteman dengan orang-orang berperilaku baik.
Miskawaih memberikan alasan mengapa ia menekankan pentingnya lingkungan yang baik, yaitu:
1. Tidak semua orang dapat dengan cepat menerima kebaikan yang diajarkan kepadanya.
2. Lingkungan yang baik akan mencegah mereka yang lamban, bisa terhindar dari kejahatan.
3. Mereka yang lamban, harus terus-menerus mendapatkan pendidikan tentang kebaikan.
4. Setiap orang dapat berubah asalkan mendapatkan pendidikan secara terus-menerus tentang kebaikan.
Pemikiran Miskawaih itu tersurat dalam kedua bukunya yang berjudul, Tahdhib al-Akhlaq. Miskawaih mengatakan, pendidikan sejak dini terhadap anak-anak memiliki arti penting. Selain menanamkan kebaikan sejak dini, juga bisa sebagai sarana pembentuk karakter.
Menurut Miskawaih, tidak mudah bagi seseorang yang telah dewasa untuk mengubah karakternya. Kecuali, dalam kondisi tertentu. Misalnya, orang tersebut sadar dan menyesal atas perilaku dan moralnya yang buruk selama ini.
Miskawaih mengungkapkan, seseorang yang berusaha memperbaiki karakternya, memurnikan jiwanya yang kotor, dan membebaskan dirinya dari kebiasaan jahat, karena pada dasarnya semua orang itu baik.
Miskawaih menegaskan pula, mereka akan tetap menjadi baik karena adanya hukum dan pendidikan. Juga, ada pelatihan dan pembiasaan terhadap mereka sejak kanak-kanak, agar mereka selalu menjalankan kebaikan sesuai fitrahnya.
Ibnu Maskawaih menyebutkan ada beberapa hal buruk yang harus dihilangkan sejak anak-anak supaya mereka tidak menderita ketika dewasa:
1. Pertama
2. Malas
3. Menganggur
4. Menyiakan hidup tanpa kerja apa pun. Intinya, manusia tanpa manfaat
5. Kebodohan
6. Ketidaktahuan yang disebabkan oleh kegagalan untuk mempelajari
7. Melatih diri dengan ajaran-ajaran yang diucapkan oleh orang-orang bijak
8. Bersikap kurang ajar dan tak tahu sopan santun
9. Rasa asyik dan keadaan terbiasa dengan perbuatan buruk karena seringnya melakukan perbuatan tersebut.
Miskawaih mengatakan, untuk menghilangkan setiap karakteristik buruk di atas, dibutuhkan pendidikan atau pelatihan yang dilakukan secara terus-menerus. Hanya orang cerdas, yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari karakter buruk tersebut.
Miskawaih dan Metode Pendidikan, Ibnu Miskawaih juga mengenalkan sejumlah langkah yang akan melahirkan aspek positif dalam mendidik. Ia, misalnya, memandang penting pemberian pujian, memberikan pujian kepada orang dewasa yang melakukan perbuatan baik di hadapan anak-anak bertujuan memberikan mencontoh sikap terpuji yang dilakukan oleh orang dewasa tersebut. Selain pujian, ia juga memberi saran untuk mendorong anak menyukai makanan, minuman, dan pakaian yang baik. Namun, perlu diingatkan pula agar tidak makan, minum, dan berpakaian secara berlebihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar